Islam Agama Penuh Kebenaran

Senin, 11 Februari 2013

Hikmah Ramadhan



Di bulan Ramadhan, Allah menghamparkan rahmat-Nya dengan sedemikian luas dan Allah mengundang hamba-hamba-Nya untuk menjadi tamu-Nya di bulan yang benuh berkah ini. Dalam bulan mulia ini, suasana maknawi yang membawa kedamaian akan muncul dalam masyarakat. Dengan hadir dalam suasana yang penuh spiritualitas ini, manusia akan memperoleh kesiapan untuk melakukan perjalanan menuju cahaya. Perjalanan menuju cahaya adalah perjalanan yang membawa manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pada kenyataannya, hal yang membawa manusia ke arah ketiadaan dan kesia-siaan adalah jauh dari Allah. Oleh karena itu, agar manusia dapat melangkah di jalan kebahagiaan, dia harus selalu mendekatkan dirinya kepada Allah, Sumber Segala Kebahagiaan.


Bulan Ramadhan merupakan kesempatan bagi manusia untuk membangun dirinya.  Bulan Ramadhan bagaikan kamp pelatihan yang diselenggarakan setiap tahun bagi kaum muslimin. Di dalam kamp pelatihan ini, mereka akan ditempa agar memiliki kesabaran, pengendalian diri, kekuatan melawan hawa nafsu, serta kasih sayang terhadap sesama. Setelah sebulan mengikuti pelatihan ini, manusia akan menemukan kekuatan dan jiwa baru dalam melanjutkan kehidupannya.

Puasa, selain memiliki pengaruh terhadap individu juga memiliki faedah bagi masyarakat. Puasa yang hakiki tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar, melainkan juga menahan diri dari perbuatan atau tingkah laku yang buruk. Dengan demikian, bila setiap orang melakukan hal seperti ini, yaitu meninggalkan perkataan dan perbuatan yang buruk, tentu saja akan terbangun lingkungan masyarakat yang sehat, selamat, dan penuh kebahagiaan. Dalam bulan Ramadhan, kaum Muslimin akan dilatih untuk tidak mengumbar kemarahan kepada orang lain, saling menolong, serta menjalin kembali tali silaturahmi.

Rasulullah Saw bersabda, "Betapa banyak  orang yang berpuasa, akan tetapi yang didapatkannya hanyalah rasa lapar dan dahaga saja". Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa berpuasa yang hakiki bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi, ada hal-hal lain yang harus dilakukan agar ibadah kita di bulan suci Ramadhan ini bisa memiliki kualitas yang bagus.

Rasulullah Saw dalam salah satu hadisnya bersabda, "Bulan Ramadhan adalah bulan milik Allah. Di dalam bulan ini, pahala perbuatan baik adalah dua kali lipat dan dosa-dosa akan diampuni. Bulan Ramadhan adalah bulan berkah dan pelipatgandaan pahala, bulan tempat kembali, serta bulan tempat bertobat dan pengampunan dosa-dosa. Ramadhan adalah bulan untuk membebaskan diri dari neraka dan bulan untuk mencapai surga. Karena itu, wahai manusia, di bulan Ramadhan, jauhilah semua pekerjaan yang buruk dan haram, dan banyaklah membaca al-Quran, serta dalam setiap waktu, sibukkanlah dirimu dengan mengingat dan berzikir kepada Allah Swt. Jangan sampai kalian menyamakan bulan Ramadhan seperti bulan-bulan yang lain, karena bulan ini paling mulia di antara bulan-bulan lainnya."

*    *    *

Salman al-Farisi berkata, "Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah Saw di bawah sebuah pohon. Rasulullah kemudian mengambil sebuah ranting yang telah kering dan kemudian menggoyang-goyangkannya hingga semua daun-daun keringnya berguguran." Rasulullah kemudian berkata kepadaku, "Salman, tidakkah kamu bertanya mengapa aku melakukan hal ini?" Akupun menjawab, "Ya Rasulullah, aku sangat ingin mengetahui, apa maksud perbuatan yang engkau lakukan itu?"

Rasulullah menjawab, "Ketika kaum Muslimin mengambil wudhu dengan baik, lalu menunaikan shalat lima waktu, dosa-dosanya akan berguguran sebagaimana bergugurannya daun-daun dari ranting ini.'"

*     *     *

Anda pasti sudah pernah mendengar cerita tentang Qarun dan hartanya. Qarun adalah anak paman Nabi Musa as. Allah mengaruniainya dengan harta yang sangat banyak, sampai-sampai untuk membawa kunci gudang-gudang hartanya, dibutuhkan beberapa lelaki yang kuat. Namun, alih-alih bersyukur kepada Allah atas karunia yang didapatkannya itu, Qarun malah membangga-banggakan kekayaannya di depan kaum Bani Israil dan menghina kaum fakir miskin. Semakin banyak hartanya bertambah, semakin besar pula kesombongannya. Dalam surat al-Qashash ayat 78, diceritakan tentang kesombongan Qarun, yang artinya sebagai berikut, "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku."

Suatu hari, Nabi Musa as mendatangi Qarun dan bersabda, "Allah berfirman kepadaku agar aku mengambil hak kaum fakir miskin darimu dalam bentuk zakat harta."  Namun, Qarun menolak memberikan zakat atas hartanya. Dia bahkan melancarkan berbagai fitnah dan penghinaan terhadap Nabi Musa. Kesesatan Qarun sedemikian besarnya, sampai akhirnya Allah  mendatangkan gempa dahsyat yang membuat Qarun dan seluruh hartanya terbenam ke dalam bumi.

Kejadian ini tercantum dalam al-Quran surat al-Qashash ayat 81, "Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya." Dalam ayat ke-83 Allah berfirman, "Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar